Statistics

Kamis, 16 April 2020

Nila Sebelanga di Kampus Pendidikan : Sekelumit Realita di Kampus Calon Pendidik Bangsa


“Nila setitik, rusak susu sebelanga
Namun, bagaimana jika nilanya sebelanga?”

Dilangkahkan kaki, digerakkan raga hingga ke taman adimarga.Dari kota udik ke kota penuh pernak-pernik,anak polos dengan sejuta mimpi idealis itu memulai pertualangan baru, mengembara menuju patung Kembara. Patung karya Nyoman Nuarta ini memang barulah berusia seumur jagung menghias kampus yang agung. Patung ini berbisik padanya bahwa ia ingin lulusan kampus ini dapat berpencar , menjelajah nusantara ,dan menebar benih kebaikan dengan ilmu mereka.Ia heran, apakah patung ini sangat cerdas hingga mampu berbicara seperti itu, ataukah ia yang gila karna dapat mendengarnya,ya? ntahlah.

Dalam otaknya,memilih kampus,hmm, tampaknya memang seperti ajang pdkt ,sih . Proses mencari si doi yang cocok memang lah njlimet, tetapi kalau udah sreg langsung saja tembak saja deh,hehehe. Begitu lah pikirnya setahun lalu untuk meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Tak perlu banyak pikiran olehnya untuk memantapkan hati segera berkemas-kemas untuk mencari kelima bola sakti menimba ilmu di kota pelajar,Kota Yogyakarta. “Hah,kau pengen masuk ke UN*? Cuma jadi guru doang ? Guru kan blablabla...” Ditutuplah rapat-rapat telinganya agar tak mendengar komentar miring nan peda kawanya itu. Memilih guru sebagai profesi mungkin memang tidak sekeren mereka yang berjas putih berkalung stetoskop, atau mereka yang berjas rapi duduk dalam ruang ber-AC, ataupun tikus berdasi yang ketahuan terlelap saat sidang *ups, namun profesi yang sering dicap kuno ini adalah benar-benar penuh dengan tanggung jawab.Bagaimana mungkin orang hebat di negeri ini lahir jika gurunya tidak kompeten?

Guru, pada kurun dasawarsa terakhir ini, kerap menjadi sorotan baik oleh pakar pendidikan sampai media massa dan cetak. Oh bukan, ternyata bukan berita tentang keberhasilan mendulang prestasi emas di kancah nasional, namun berita tentang permasalahan pendidikan dan peserta didik khususnya yang ditodongkan semuanya pada guru sebagai akar masalahnya. Pandangan khalayak luas tentang guru saat ini cenderung negatif, senegatif obrolan ibu-ibu kompleks ketika mengerumuni tukang sayur. Banyak orang tua yang mencemooh guru manakala anaknya tidak memperlihatkan hasil memuaskan dalam bidang akademik maupun jika guru memarahi anaknya di sekolah atau mungkin memang anaknya saja yang tidak mau diarahkan. Inilah yang menyebabkan wibawa seorang guru saat ini dipertanyakan keberadaannya.Masihkah guru dihormati saat ini? Konon, pada zaman dahulu kedudukan guru setara dengan para priyayi yang berada di barisan depan upacara.Namun sekarang apa kabar guruku,pahlawanku?

Banyaknya cemooh yang menghampiri memang bukan tanpa sebab. Beberapa oknum guru tak bertanggung jawab melanggar kode etiknya demi keuntungan materi maupun hasrat duniawinya yang lain. Terlebih lagi, mereka kerap dicap rendah akibat minimnya kompetensi yang mereka miliki sebagai bagian profesionalisme kerja. Kompetensi yang dimiliki guru hingga berbusa-busa selama dua sks, lalu memberi tugas menulis esai yang sedang penulis kerjakan ini, hehehe. Bukan,lebih daripada itu yaitu mampu menginternalisasikan nilai positif tentang kehidupan dalam diri guru kepada peserta didiknya. Kegagalan guru dalam melaksanakan pendidikan sesuai tugasnya dan rendahnya kompetensi guru menjadi sebab lahirnya guru tak kompeten dan berperilaku kurang terpuji.

Hukum karma mengatakan bahwa segala sesuatu di dunia ini adalah suatu rangkaian sebab dan akibat. Awal kehidupan terjadi karena ditiupkan ruh kepada bayi, hingga molekul air terbentuk karena pemakaian elektron bersama oleh atom H dan O, ialah contoh bahwa sesuatu ada asal usulnya. Penulis pun percaya bahwa stigma dan opini buruk khalayak tentang guru saat ini memang bukan sepenuhnya salah guru, namun guru pun turut bebrbuat kesalahan, baik saat menjadi mahasiswa dan ketika telah terjun ke dunia kerja. Hal ini yang membuat profesi guru yang (pernah) harum namanya pun memudar. Wibawa guru kian terpuruk.

Martabat guru yang merosot ini mungkin tercermin dari perilaku mereka ketika kuliah di kampus pendidikan. Bukan, bukan salah kampusnya dengan kebijakan kontroversialnya yang kerap didemo aktivis BEM di depan gedung rektorat, namun dari mahasiswanya sendiri.Salah satu masalah yang dibawa oleh anak SMA ke kampus pendidikan ialah masalah integritas. Integritas menjadi barang yang cukup mahal pada zaman ini.Orang jenius dengan titel sepanjang kereta mengekor di belakang namanya sangat banyak jumlahnya, namun hanya sedikit yang masih mendengar cakap hati nuraninya. Masalah ini turun menurun,terwarisi, dan terperbarui selalu tiap tahunnya. Miris? Oh tentu saja. Menyayat hati? Jelas iya, apalagi hal ini dijumpai di kampus pendidikan. Kampus yang telah melahirkan pahlawan pengentas kebodohan ini tercoreng oleh perbuatan kurang terpuji mahasiswanya sendiri. Mahasiswa yang bekerja keras hingga dini hari, berjuang meningkatkan kompetensi diri menjadi pendidik, kalah oleh mereka yang berbuat curang.Apakah benar ini kampus yang melahirkan guru yang dihormati itu?

Selanjutnya adalah masalah kepribadian dan sikap. Kepribadian menjadi satu dari empat kompetensi minimal seorang pendidik profesional. Namun,alangkah terkejutnya penulis menyaksikan beberapa mahasiswa berperilaku kurang baik.Apakah benar sosok ini kelak yang akan dicontoh oleh murid-murid polos yang semangat menimba ilmu? Tak pernah penulis sangka, kampus pendidikan dengan semboyan leading in character education ini memiliki mahasiswa seperti itu.Merokok di lingkungan kampus, berucap sumpah serapah atas nasib buruk yang menimpanya,hingga meminta bantuan joki untuk menuliskan tugas akhir adalah contohnya.Seorang mahasiswa si agen perubaham itu pelakunya ? Iya. Mahasiswa kampus pendidikan itu? Iya juga. Oh,inilah yang sebenarnya ada di kampus pendidikan kita tercinta.

Selanjutnya adalah penyakit daya juang rendah.Kronis, berbulan-bulan tak kunjung sembuh terlihat.Mahasiswa jurusan pendidikan banyak yang tak tekun dan serius dalam belajar.Di kelas, raga mereka singgah namun mereka tak sungguh. Entah karena memang bukan ini jurusan pilihan mereka atau memang mereka sudah lelah dihantam tugas kuliah setiap hari, yang jelas hal ini berbahaya jika dibiarkan. Profesi guru memang terlihat tidak seberat tanggung jawab mereka yang memegang pisau bedah, namun apakah perihal mendidik anak bangsa menjadi seorang yang dewasa mental dan akalnya ialah perkara yang remeh? Titel S.Pd di belakang nama memang tidak memaksa lulusannya menjadi guru, namun bukankah semua pekerjaan yang dilakukan dengan serius dan hati yang ikhlas akan berbuah manis dan bernilai ibadah?

            Penulis memang bukan mahasiswa jurusan statistika yang dapat meramal masa depan dengan angka dan data ataupun cenayang yang dapat mencuri berita tentang masa depan dari langit, tetapi penulis yakin masih banyak waktu untuk mahasiswa calon pendidik ini memperbaiki diri dan mengedepankan kompetensi dalam bekerja.Tugas guru zaman ini makin berat, tidak hanya mentransfer ilmu dan nilai positif,tetapi juga harus mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi.

            Mungkin frasa nila sebelanga terdengar sangat melebih-lebihkan, apalagi nila setitik saja sudah rusak susu sebelanga.Namun, kesalahan dan perilaku kurang baik calon guru yang penulis jabarkan di atas cukup membahayakan apabila mahasiswa calon guru masih melakukan hal tersebut. Kepribadian seorang guru sama pentingnya dengan kecakapan kemampuan guru mengajar bidangnya. Kepribadian inilah yang akan dicontoh oleh peserta didiknya dan akan terus dibawanya.Tanggung jawab besar bagi seorang guru untuk selalu menjaga segala tingkah laku dan kepribadiannya.Pendidikan dikatakan berhasil jika ada perubahan seseorang menuju kedewasaan setelah melakukan proses interaksi antara pendidik dan peserta didik.

Empat tahun kuliah di jenjang S1 memang sangat tidak cukup, tetapi semoga dengan bekal ilmu selama perkuliahan, mahasiswa di kampus pendidikan ini dapat segera sadar dan bangkit,bahwa mereka kelak akan menjadi calon pendidik tumpuan bangsa. Orang hebat dan professional tidak dapat lahir hanya dalam waktu singkat. Calon guru hendaknya terus berusaha menimba ilmu hingga akhir hayatnya demi terus memperbarui ilmu.Bangsa ini membutuhkan mereka sebagai garda depan pendorong kemajuan bangsa.Semoga pendidikan negeri ini dapat segera menerbangkan Indonesia menuju masa keemasannya.