“Nila setitik, rusak
susu sebelanga
Namun, bagaimana jika
nilanya sebelanga?”
Dilangkahkan
kaki, digerakkan raga hingga ke taman adimarga.Dari kota udik ke kota penuh
pernak-pernik,anak polos dengan sejuta mimpi idealis itu memulai pertualangan
baru, mengembara menuju patung Kembara. Patung karya Nyoman Nuarta ini memang barulah
berusia seumur jagung menghias kampus yang agung. Patung ini berbisik padanya
bahwa ia ingin lulusan kampus ini dapat berpencar , menjelajah nusantara ,dan
menebar benih kebaikan dengan ilmu mereka.Ia heran, apakah patung ini sangat
cerdas hingga mampu berbicara seperti itu, ataukah ia yang gila karna dapat
mendengarnya,ya? ntahlah.
Dalam
otaknya,memilih kampus,hmm, tampaknya
memang seperti ajang pdkt ,sih . Proses
mencari si doi yang cocok memang lah njlimet, tetapi kalau udah sreg langsung saja tembak saja deh,hehehe. Begitu lah pikirnya setahun lalu
untuk meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Tak perlu banyak
pikiran olehnya untuk memantapkan hati segera berkemas-kemas untuk mencari
kelima bola sakti menimba ilmu di kota pelajar,Kota Yogyakarta. “Hah,kau pengen masuk ke UN*? Cuma jadi guru doang
? Guru kan blablabla...” Ditutuplah rapat-rapat telinganya agar tak
mendengar komentar miring nan peda kawanya itu. Memilih guru sebagai profesi
mungkin memang tidak sekeren mereka yang berjas putih berkalung stetoskop, atau
mereka yang berjas rapi duduk dalam ruang ber-AC, ataupun tikus berdasi yang ketahuan
terlelap saat sidang *ups, namun profesi yang sering dicap kuno ini adalah benar-benar
penuh dengan tanggung jawab.Bagaimana mungkin orang hebat di negeri ini lahir
jika gurunya tidak kompeten?
Guru,
pada kurun dasawarsa terakhir ini, kerap menjadi sorotan baik oleh pakar
pendidikan sampai media massa dan cetak. Oh bukan, ternyata bukan berita
tentang keberhasilan mendulang prestasi emas di kancah nasional, namun berita
tentang permasalahan pendidikan dan peserta didik khususnya yang ditodongkan
semuanya pada guru sebagai akar masalahnya. Pandangan khalayak luas tentang
guru saat ini cenderung negatif, senegatif obrolan ibu-ibu kompleks ketika
mengerumuni tukang sayur. Banyak orang tua yang mencemooh guru manakala anaknya
tidak memperlihatkan hasil memuaskan dalam bidang akademik maupun jika guru
memarahi anaknya di sekolah atau mungkin memang anaknya saja yang tidak mau
diarahkan. Inilah yang menyebabkan wibawa seorang guru saat ini
dipertanyakan keberadaannya.Masihkah guru dihormati saat ini? Konon, pada zaman
dahulu kedudukan guru setara dengan para priyayi yang berada di barisan depan
upacara.Namun sekarang apa kabar guruku,pahlawanku?
Banyaknya
cemooh yang menghampiri memang bukan tanpa sebab. Beberapa oknum guru tak
bertanggung jawab melanggar kode etiknya demi keuntungan materi maupun hasrat
duniawinya yang lain. Terlebih lagi, mereka kerap dicap rendah akibat minimnya
kompetensi yang mereka miliki sebagai bagian profesionalisme kerja. Kompetensi
yang dimiliki guru hingga berbusa-busa selama dua sks, lalu memberi tugas
menulis esai yang sedang penulis kerjakan ini, hehehe. Bukan,lebih daripada itu
yaitu mampu menginternalisasikan nilai positif tentang kehidupan dalam diri
guru kepada peserta didiknya. Kegagalan guru dalam melaksanakan pendidikan
sesuai tugasnya dan rendahnya kompetensi guru menjadi sebab lahirnya guru tak
kompeten dan berperilaku kurang terpuji.
Hukum
karma mengatakan bahwa segala sesuatu di dunia ini adalah suatu rangkaian sebab
dan akibat. Awal kehidupan terjadi karena ditiupkan ruh kepada bayi, hingga molekul
air terbentuk karena pemakaian elektron bersama oleh atom H dan O, ialah contoh
bahwa sesuatu ada asal usulnya. Penulis pun percaya bahwa stigma dan opini
buruk khalayak tentang guru saat ini memang bukan sepenuhnya salah guru, namun
guru pun turut bebrbuat kesalahan, baik saat menjadi mahasiswa dan ketika telah
terjun ke dunia kerja. Hal ini yang membuat profesi guru yang (pernah) harum namanya
pun memudar. Wibawa guru kian terpuruk.
Martabat
guru yang merosot ini mungkin tercermin dari perilaku mereka ketika kuliah di kampus
pendidikan. Bukan, bukan salah kampusnya dengan kebijakan kontroversialnya yang
kerap didemo aktivis BEM di depan gedung rektorat, namun dari mahasiswanya
sendiri.Salah satu masalah yang dibawa oleh anak SMA ke kampus pendidikan ialah
masalah integritas. Integritas menjadi barang yang cukup mahal pada zaman ini.Orang
jenius dengan titel sepanjang kereta mengekor di belakang namanya sangat banyak
jumlahnya, namun hanya sedikit yang masih mendengar cakap hati nuraninya.
Masalah ini turun menurun,terwarisi, dan terperbarui selalu tiap tahunnya.
Miris? Oh tentu saja. Menyayat hati? Jelas iya, apalagi hal ini dijumpai di kampus
pendidikan. Kampus yang telah melahirkan pahlawan pengentas kebodohan ini
tercoreng oleh perbuatan kurang terpuji mahasiswanya sendiri. Mahasiswa yang
bekerja keras hingga dini hari, berjuang meningkatkan kompetensi diri menjadi
pendidik, kalah oleh mereka yang berbuat curang.Apakah benar ini kampus yang
melahirkan guru yang dihormati itu?
Selanjutnya
adalah masalah kepribadian dan sikap. Kepribadian menjadi satu dari empat
kompetensi minimal seorang pendidik profesional. Namun,alangkah terkejutnya penulis
menyaksikan beberapa mahasiswa berperilaku kurang baik.Apakah benar sosok ini
kelak yang akan dicontoh oleh murid-murid polos yang semangat menimba ilmu? Tak
pernah penulis sangka, kampus pendidikan dengan semboyan leading in character education ini memiliki mahasiswa seperti
itu.Merokok di lingkungan kampus, berucap sumpah serapah atas nasib buruk yang
menimpanya,hingga meminta bantuan joki untuk menuliskan tugas akhir adalah
contohnya.Seorang mahasiswa si agen perubaham itu pelakunya ? Iya. Mahasiswa
kampus pendidikan itu? Iya juga. Oh,inilah yang sebenarnya ada di kampus
pendidikan kita tercinta.
Selanjutnya
adalah penyakit daya juang rendah.Kronis, berbulan-bulan tak kunjung sembuh terlihat.Mahasiswa
jurusan pendidikan banyak yang tak tekun dan serius dalam belajar.Di kelas, raga
mereka singgah namun mereka tak sungguh. Entah karena memang bukan ini jurusan
pilihan mereka atau memang mereka sudah lelah dihantam tugas kuliah setiap
hari, yang jelas hal ini berbahaya jika dibiarkan. Profesi guru memang terlihat
tidak seberat tanggung jawab mereka yang memegang pisau bedah, namun apakah
perihal mendidik anak bangsa menjadi seorang yang dewasa mental dan akalnya
ialah perkara yang remeh? Titel S.Pd di belakang nama memang tidak memaksa
lulusannya menjadi guru, namun bukankah semua pekerjaan yang dilakukan dengan
serius dan hati yang ikhlas akan berbuah manis dan bernilai ibadah?
Penulis memang bukan mahasiswa
jurusan statistika yang dapat meramal masa depan dengan angka dan data ataupun
cenayang yang dapat mencuri berita tentang masa depan dari langit, tetapi penulis
yakin masih banyak waktu untuk mahasiswa calon pendidik ini memperbaiki diri
dan mengedepankan kompetensi dalam bekerja.Tugas guru zaman ini makin berat,
tidak hanya mentransfer ilmu dan nilai positif,tetapi juga harus mampu
menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi.
Mungkin frasa nila sebelanga
terdengar sangat melebih-lebihkan, apalagi nila setitik saja sudah rusak susu
sebelanga.Namun, kesalahan dan perilaku kurang baik calon guru yang penulis
jabarkan di atas cukup membahayakan apabila mahasiswa calon guru masih
melakukan hal tersebut. Kepribadian seorang guru sama pentingnya dengan
kecakapan kemampuan guru mengajar bidangnya. Kepribadian inilah yang akan dicontoh
oleh peserta didiknya dan akan terus dibawanya.Tanggung jawab besar bagi
seorang guru untuk selalu menjaga segala tingkah laku dan
kepribadiannya.Pendidikan dikatakan berhasil jika ada perubahan seseorang
menuju kedewasaan setelah melakukan proses interaksi antara pendidik dan
peserta didik.
Empat
tahun kuliah di jenjang S1 memang sangat tidak cukup, tetapi semoga dengan
bekal ilmu selama perkuliahan, mahasiswa di kampus pendidikan ini dapat segera
sadar dan bangkit,bahwa mereka kelak akan menjadi calon pendidik tumpuan
bangsa. Orang hebat dan professional tidak dapat lahir hanya dalam waktu
singkat. Calon guru hendaknya terus berusaha menimba ilmu hingga akhir hayatnya
demi terus memperbarui ilmu.Bangsa ini membutuhkan mereka sebagai garda depan
pendorong kemajuan bangsa.Semoga pendidikan negeri ini dapat segera
menerbangkan Indonesia menuju masa keemasannya.