Statistics

Selasa, 03 November 2015

Mengidentifikasi Karakteristik Novel Angkatan 20-an


Nama   : Muhammad Naufal Majid
Kelas / Nomor Presensi : IX G /21


Sengsara Membawa Nikmat


            Novel “Sengsara Membawa Nikmat”adalah salah satu bentuk sastra klasik  karya anak negeri yang cukup popular.Novel ini merupakan sastra angkatan 1920. Kisah yang bernuansa adat Minangkabau ini  mengisahkan tentang perjuangan hidup yang penuh dengan ancaman,tantangan,dan hambatan yang dialami oleh tokoh utama sebelum ia meraih kesuksesan dalam hidupnya.
*       Identitas Buku

Ø Judul buku                   : Sengsara Membawa Nikmat
Ø Penulis                         : Tulis Sutan Sati
Ø Penerbit                      : Balai Pustaka
Ø Cetakan pertama        : 1929
Ø Jumlah halaman           : 204

*       Sinopsis
            Secara umum, novel ini menceritakan tentang kehidupan Midun,seorang pemuda Minang dari kalangan rakyat biasa.Di dalam novel ini,ia diceritakan sebagai sesosok pemuda yang santun, berperilaku baik, taat agama, mahir dalam ilmu silat dan rendah hati. Karena kehalusan budi pekerti dan kerendahan hatinya, ia disukai warga kampungnya. Hal ini membakar rasa iri hati dan cemburu pemuda lainnya yangbernama Kacak. Kacak adalah pemuda dari golongan bangsawan yang sangat disegani di kampungnya karena ia adalah anak raja.Ia dilukiskan sebagai pemuda yang angkuh,congkak,dan jahat.

            Penyebab utama terjadinya konflik dalam novel ini ialah kebencian dan kedengkian Kacak kepada Midun.Ia terus mencari akal untuk menyiksa,menjebak,dan memfitnahnya.Lebih dari itu,iamerencanakan sejumlah hal dengan tujuan membunuh Midun. Usaha tersebut selalu gagal.Akan tetapi ,Midun dapat dijebak dan pada akhirnya ia berhasil dijebloskan ke dalam penjara.
            Dalam menjalani masa tahanannya, Midun bertugas menyapu jalanan. Pada suatu hari, ia melihat  gadis cantik yang duduk termenung di bawah pohon. Setelah gadis itu pergi, Midun bermaksud menyapu di tempat gadis tersebut duduk. Dirinya sangat terkejut karena mendapati sebuah kalung milik gadis tersebut. Akhirnya setelahia mengembalikan kalung milik gadis tersebut, ia bisa berkenalan dengan gadis itu. Halimah hidup bersama dengan ayah tirinya. Ia merasa tidak terancam dan ketakuta.Gadis yang bernama Halimah itu meminta Midun untuk mencari ayah kandungnya di Bogor,setelah Midun selesai menjalani masa hukuman yang tinggal beberapa hari itu. Akhirnya,Midun berjanji untuk mengantarkan Halimah.

            Setelah keluar dari penjara,Midun menepati janjinya dengan membawa Halimah lari ke Bogor mencari ayahnya. Setelah menemukan ayah Halimah, Midun menetap di rumah tersebut selama beberapa bulan. Setelah sekian lama tinggal di rumah itu, ia memutuskan berangkat ke Batavia mencari pekerjaan.

            Masalah yang Midun alami,belumlah usai. Ia meminjam uang pada rentenir dan memulai usahanya.Akan tetapi,akibat meminjam kepada rentenir, ia harus berhadapan kembali dengan meja hijau karena ia tidak mau membayar uang yang ia rasa tidak pernah ia pinjam.Akhirnya, ia masuk ke penjara sekali lagi. Setelah ia menghirup udara bebas, ia pun berjalan-jalan ke Pasar Baru.Secara tidak sengaja ia menolong seorang sinyo Belanda yang diganggu penjahat. Sinyo Belanda tersebut ternyata anak seorang pejabat terkenal. Karena kebaikannya,Midun diberi pekerjaan dan akhirnya ia pergi ke Bogor untuk menikahi kekasih hatinya, Halimah.

            Karir Midun pun mengalami kenaikan yang signifikan dan dipercaya memimpin sebuah operasi di Medan. Hal tersebut mempertemukannya dengan adiknya yang bernama Manjau. Manjau bercerita bahwa keadaan keluarganya sangat menyedihkan. Akhirnya, Midun meminta agar ditugaskan di kampung halamannya.Akhirnya ia kembali ke sana dan bertemu dengan keluarganya.Ia pun juga bertemu dengan Kacak,musuhnya dahulu. Kacak sangat menyesal dengan perbuatan yang telah ia lakukan dahulu pada Midun. Akhirnya,Midun beserta keluarganya  hidup bahagia di kampung halamannya.

*      Unsur Intrinsik

Ø  Tema
Tema dari novel ini ialah perjuangan dan ketabahan. Hal ini dikarenakan oleh adanya perjuangan panjang dan berat yang harus dialami Midun untuk dapat mengubah jalan hidup dirinya dan keluarganya.

Ø  Tokoh dan Penokohan

·         Midun
Tokoh protagonis yang bersifat cekatan,rajin,pandai,arif,suci,baik hati,tertib,sopan,santun,lemahlembut,gagah berani,penyayang,pengasih,ikhlas,alim,dan saleh.

Bukti kutipan :

o   “Pakaiannya yang bersih dan sederhana rupanya itumenunjukkan bahwa ia seorang yang suci dan baik hati.Parasnya baik, badannya kuat, bagus, dan sehat.”(Kutipan berdasarkan pada halaman tiga)
o   “Memang Midun seorang muda yang sangat digemari orang di kampungnya. Budi pekertinya amat baik, tertib sopan santun kepada siapa jua pun. Tertawanya manis, sedap didengar; tutur katanya lemah lembut. Ia gagah berani lagi baik hati, penyayang dan pengasih…..”
(Kutipan berdasarkan pada halaman empat)
o   “Nah, saya katakan terus terang kepadamu! Engkau adalah seorang anak muda yang cekatan. Budi pekertimu baik. Dalam segala hal engkau rajin dan pandai. Selama ini belum pernah engkau mengecewakan hati kami. Segala pekerjaanmu bolehdikatakan selalu menyenangkan hati kami.”
(Kutipan berdasarkan pada halaman 24)
o   “..hati anak muda yang alim dan saleh itu berdebar jua.”
(Kutipan berdasarkan pada halaman 128)

·         Kacak
Tokoh antagonis dengan sifat yang sombong,jahat, tidak disukai orang, dan suka berkata kasar kepada orang lain.

Bukti Kutipan :

o   “…..karena bersesuaian dengan tingkah lakunya. Ia tinggi hati, sombong, dan congkak. Matanya juling, kemerah-merahan warnanya. Alisnya terjorok ke muka, hidungnya panjang dan bungkuk. Hal ini sudah menyatakan, bahwa iaseorang yang busuk hati. Di kampung ia sangat dibenci orang, karena sangat angkuhnya…”(Kutipan berdasarkan pada halaman lima)
o   Dengan marah amat sangat Midun dipukul, ditinju dan diterajangkanoleh Kacak.
(Kutipan berdasarkan pada halaman 39)
o   "Jika benar engkau saya katakan kurang ajar, apapikiranmu, anjing!" ujar Kacak dengan sangat marah. "Akansaya sembahkah engkau hendaknya, binatang!"
(Kutipan berdasarkan pada halaman 45)

·         Halimah
Cantik, baik budi pekertinya , sederhana, dan manis dipandang mata.

Bukti Kutipan :
o   “…..Sungguh cantik gadis ini, tidak ada cacat celanya. Hati siapa yang tidak gila, iman yang takkan bergoyang memandang yang seelok ini. Tingkah lakunya pun bersamaan pula dengan rupannya…”
(Kutipan berdasarkan pada halaman 144)

·         Pak Midun
Tokoh protagonis yang berbudi pekerti baik, arif, dan penyayang kepada anak- anaknya.

Bukti Kutipan :

o   “…..karena pak Midun seorang yang tahu dan arif, tiadalah ditinggalkannya syarat-syarat aturan berguru….”
(Kutipan berdasarkan pada halaman 16)
o   “Demikianlah hal pak Midun habis hari berganti pekan, habis pekan berganti bulan. Ia selalu bercintakan Midun, sedikit pun tidak hendak luput dari pikirannya… “
(Kutipan berdasarkan pada halaman 167)

·         Haji Abbas
Tokoh protagonis dengan budi pekertinya yang baik,bijak, berilmu, dan meupakan seorang ulama besar.

   Bukti Kutipan :
o   “….. Haji Abbas adalah seorang ulama besar. Memang menjadi sifat pada haji Abbas, jika menuntut sesuatu ilmu berpantang patah di tengah.”
(Kutipan berdasarkan pada halaman 18)
o   “Haji Abbas adalah seorang tua, yang lubuk akal gudang bicara, laut pikiran tambunan budi, maka ia pun dimalui dan ditakuti orang di kampung.”
(Kutipan berdasarkan pada halaman 18)
o   "Meskipun engkau tidak bersalah, tapi percayalah engkau,bahwa kejadian petang ini tidak membaikkan kepada namamu. Biarpun tidak salahmu, tapi kata orang keduanya salah.”
(Kutipan berdasarkan pada halaman 18)

·         Tokoh Tambahan
Maun, Manjau,Kadirun, Ibu Juriah, Juriah, Kemenakan tuanku Laras, Pendekar Sutan, Pak Inuh, Lenggang, Jenang,Turigi,Bentang Alam,Ibu Halimah,Nenek Halimah,Ayah tiri Halimah,orang Tionghoa ,Pak Karto, dan Ganjil.

Ø  Latar
·         Tempat     
Latar tempat yang ada di dalam novel ini adalah Minangkabau,Bogor, Bukitinggi, Padang, dan Tanah Jawa.
Bukti Kutipan :

o    “Sesudah makan-minum, maka diketengahkannyalah oleh Pak Midun syarat-syarat berguru ilmu silat, sebagaimana yang sudah dilazimkan orang di Minangkabau.”
(Kutipan berdasarkan pada halaman 16)
o    "Baik Mamak! Tapi saya rasa tentu tidak akan demikian jadinya, sebab yang saya ketengahkan ini, menurut adat di Minangkabau ini."
(Kutipan berdasarkan pada halaman 174)
o    “Sebulan lagi ada pacuan kuda dan pasar malam di Bukittinggi.”
(Kutipan berdasarkan pada halaman 59)
o    “Setlah Midun keluar dari kantor Landraad, diceritakannyalah kepada ketiga bapaknya, bahwa Ia dihukum ke Padang lamanya empat bulan.”
(Kutipan berdasarkan pada halaman 81)
o    “Beserta dengan beberapa orang kawan dari Betawi, ia pun berangkatlah ke
Bogor. Sampai di Bogor, didapatinya ayah Halimah sudah siap.”
  (Kutipan berdasarkan pada halaman 186)

·         Waktu      
Latar waktu novel ini ialah waktu Asar,Ahad pagi,malam hari,pagi-pagi pada hari Sabtu.
o   “Waktu asar sudah tiba. “
 (Kutipan berdasarkan pada halaman pertama)
“Sekali peristiwa pada suatu petang Midun pergi ke sungai hendak mandi.  (Kutipan berdasarkan pada halaman 43)
o   “Hari Ahad pagi-pagi, Midun sudah memikul tongkat pengirik padi ke sawah.”  (Kutipan berdasarkan pada halaman 27)
o   “Pagi-pagi hari Sabtu,sebelum matahari terbit, sudah sampai di Bukittinggi.”
(Kutipan berdasarkan pada halaman 64)

·         Suasana    
Suasana yang dialami para tokoh novel ini ialah takut,bahagia,dan sedih.

Bukti Kutipan :

o   Berkacau-balau pikiran Midun tentang batu yang dikatakan keramat itu.Tetapi ia tidak berani mengeluarkan perasaannya,karena takut kepada orang banyak yang mengelilinginya.
(Kutipan berdasarkan pada halaman 69)
o   “Denganbersedih hati dan muka yang suram, berjalanlah ia, tidak menoleh-noleh ke belakang.”
(Kutipan berdasarkan pada halaman 69)

o   “Mendengar perkataan itu hampir tidak dapat Midun menjawab, karena sangat girang hatinya mendengar kabar itu.
(Kutipan berdasarkan pada halaman 117)

Ø  Alur/Plot
Alur maju adalah alur yang digunakan dalam novel ini.
·         Orientasi atau pengenalan

Bukti Kutipan :

o   “Pakaiannya yang bersih dan sederhana rupanya itu menunjukkan bahwa ia seorang yang suci dan baik hati.Parasnya baik, badannya kuat, bagus, dan sehat.”
(Kutipan berdasarkan pada halaman tiga)
o   “Memang Midun seorang muda yang sangat digemari orang di kampungnya. Budi pekertinya amat baik, tertib sopan santun kepada siapa jua pun. Tertawanya manis, sedap didengar; tutur katanya lemah lembut. Ia gagah berani lagi baik hati, penyayang dan pengasih…..”
(Kutipan berdasarkan pada halaman empat)

·         Timbulnya konflik atau permasalahan
·          
Bukti Kutipan :

o   “Kacak selalu mencari-cari jalan, supaya ia dapat berkelahi dengan Midun. Dengan kiasan itu Midun maklum atas kebencian Kacak kepadanya. Tetapi ia amat heran, apa sebabnya Kacak jadi begitu kepadanya.
 (Kutipan berdasarkan pada halaman 30)

·         Puncak Konflik
Bukti Kutipan :
“Setelah Midun keluar dari kantor Landraad, diceritakannyalahkepada ketiga bapaknya, bahwa ia dihukum ke Padang lamanya empat bulan. Dan dikatakannya pula besoknya ia mestiberangkat menjalankan hukuman itu.” (Kutipan berdasarkan pada halaman 30)

·         Penyelesaian  atau Resolusi
o   “Setelah diperiksa, kedapatan adabeberapa rupiah uang belasting yang tidak disetornya. Kacakdicari, didakwa menggelapkan uang belasting. Sebulankemudian daripada itu, Kacak dapat ditangkap orang diLubuksikaping. Dengan tangan dibelenggu, ia pun dibawa polisike Bukittinggi terus dimasukkan ke penjara. Enam bulansesudah itu, perkara Kacak diperiksa. Karena terang iabersalah, maka Kacak dihukum 2 tahun dan dibuang ke Padang.”
(Kutipan berdasarkan pada halaman 204)
o   Enam bulan Midun bekerja, nyatalah kepada orang di atasakan kecakapannya dalam pekerjaannya. Maka ia pun diangkat menjadi menteri polisi di Tanjung Priok.
(Kutipan berdasarkan pada halaman 185)

Ø  Sudut Pandang
Sudut pandang pengarang dalam cerita ini ialah sebagai. orang ketiga serba tahu, yaitu dengan menggunakan kata “dia”,” ia”,dan nama orang, misalnya Maun,Pak Midun dan Turigi.

Bukti Kutipan :
o   “Midun berdiam diri saja mendengar perkataan ayahnya.”
(Kutipan berdasarkan pada halaman 37)
o   “Konon kabarnya ia seorang bangsawan di negerinya,dan menjadi penasihat dan dukun.”
(Kutipan berdasarkan pada halaman 99)
o   “Belum lama Halimah meletakkan kepala ke bantal, ia puntertidur amat nyenyaknya.”
(Kutipan berdasarkan pada halaman 144)

Ø  Gaya Bahasa
     Novel ini banyak menggunakan bahasa Minangkabau.Banyak pula peribahasa yang sarat akan nilai kehidupan di dalamnya.Majas yang digunakan pun bermacam-macam,seperti metafora,personifikasi,dan hiperbola.
Bukti Kutipan :

o   “…angin berembus lunak.”
(Kutipan berdasarkan pada halaman 151)
o    “Sudah hampir terbenam matahari gila membual juga.”
(Kutipan berdasarkan pada halaman keenam)
o    “Amboi, bunyi yang kami takutkan itu, kiranya “Cempedak hutan” yang baru jatuh…”
(Kutipan berdasarkan pada halaman 11)


o   “Bertimbun-timbun, hingga hampir sama dengan duduk kita. “
(Kutipan berdasarkan pada halaman ketiga)
o   “Contohnya ilmu padi, kian berisi kianrunduk. Begitulah yang kami sukai dalam pergaulan bersama.”
(Kutipan berdasarkan pada halaman 23)

Ø  Amanat
     Novel ini penuh dengan nilai pembelajaran hidup bagi pembacanya. Tidak hanya berdasarkan alur ceritanya,nilai kehidupan ini dapat diperoleh melalui jalan pikiran tokoh dan beberapa selipan peribahasa di dalamnya.
       Nilai kehidupan yang dapat kita ambil adalah selalu menghadapi suatu persoalan hidup dengan rasa optimis.Selain itu,sebagai manusia,kita tidak boleh menyerah dan berputus asa dalam menggapai suatu harapan atau impian yang kita idam-idamkan.Perjuangan hidup ini memanglah tidak mudah. Berbagai ancaman,tantangan,hambatan,dan gangguan yang selalu mengganggu kita dalam meraih asa. Untuk itu, kita harus menghadapi semua persoalan hidup dengan rasa optimis,ikhlas,sabar, dan tabah.