Nama : Muhammad Naufal Majid
Kelas /
Nomor Presensi : IX G /21
Sengsara
Membawa Nikmat
Novel “Sengsara Membawa Nikmat”adalah
salah satu bentuk sastra klasik karya
anak negeri yang cukup popular.Novel ini merupakan sastra angkatan 1920. Kisah
yang bernuansa adat Minangkabau ini
mengisahkan tentang perjuangan hidup yang penuh dengan
ancaman,tantangan,dan hambatan yang dialami oleh tokoh utama sebelum ia meraih
kesuksesan dalam hidupnya.
Identitas Buku
Ø Judul
buku :
Sengsara Membawa Nikmat
Ø Penulis : Tulis Sutan Sati
Ø Penerbit : Balai Pustaka
Ø Cetakan
pertama : 1929
Ø Jumlah
halaman : 204
Sinopsis
Secara umum,
novel ini menceritakan tentang kehidupan Midun,seorang pemuda Minang dari
kalangan rakyat biasa.Di dalam novel ini,ia diceritakan sebagai sesosok pemuda
yang santun, berperilaku baik, taat agama, mahir dalam ilmu silat dan rendah
hati. Karena kehalusan budi pekerti dan kerendahan hatinya, ia disukai warga
kampungnya. Hal ini membakar rasa iri hati dan cemburu pemuda lainnya
yangbernama Kacak. Kacak adalah pemuda dari golongan bangsawan yang sangat
disegani di kampungnya karena ia adalah anak raja.Ia dilukiskan sebagai pemuda
yang angkuh,congkak,dan jahat.
Penyebab utama
terjadinya konflik dalam novel ini ialah kebencian dan kedengkian Kacak kepada
Midun.Ia terus mencari akal untuk menyiksa,menjebak,dan memfitnahnya.Lebih dari
itu,iamerencanakan sejumlah hal dengan tujuan membunuh Midun. Usaha tersebut
selalu gagal.Akan tetapi ,Midun dapat dijebak dan pada akhirnya ia berhasil
dijebloskan ke dalam penjara.
Dalam
menjalani masa tahanannya, Midun bertugas menyapu jalanan. Pada suatu hari, ia
melihat gadis cantik yang duduk
termenung di bawah pohon. Setelah gadis itu pergi, Midun bermaksud menyapu di
tempat gadis tersebut duduk. Dirinya sangat terkejut karena mendapati sebuah
kalung milik gadis tersebut. Akhirnya setelahia mengembalikan kalung milik
gadis tersebut, ia bisa berkenalan dengan gadis itu. Halimah hidup bersama
dengan ayah tirinya. Ia merasa tidak terancam dan ketakuta.Gadis yang bernama
Halimah itu meminta Midun untuk mencari ayah kandungnya di Bogor,setelah Midun
selesai menjalani masa hukuman yang tinggal beberapa hari itu. Akhirnya,Midun
berjanji untuk mengantarkan Halimah.
Setelah
keluar dari penjara,Midun menepati janjinya dengan membawa Halimah lari ke
Bogor mencari ayahnya. Setelah menemukan ayah Halimah, Midun menetap di rumah
tersebut selama beberapa bulan. Setelah sekian lama tinggal di rumah itu, ia
memutuskan berangkat ke Batavia mencari pekerjaan.
Masalah yang
Midun alami,belumlah usai. Ia meminjam uang pada rentenir dan memulai usahanya.Akan
tetapi,akibat meminjam kepada rentenir, ia harus berhadapan kembali dengan meja
hijau karena ia tidak mau membayar uang yang ia rasa tidak pernah ia pinjam.Akhirnya,
ia masuk ke penjara sekali lagi. Setelah ia menghirup udara bebas, ia pun
berjalan-jalan ke Pasar Baru.Secara tidak sengaja ia menolong seorang sinyo
Belanda yang diganggu penjahat. Sinyo Belanda tersebut ternyata anak seorang
pejabat terkenal. Karena kebaikannya,Midun diberi pekerjaan dan akhirnya ia pergi
ke Bogor untuk menikahi kekasih hatinya, Halimah.
Karir Midun
pun mengalami kenaikan yang signifikan dan dipercaya memimpin sebuah operasi di
Medan. Hal tersebut mempertemukannya dengan adiknya yang bernama Manjau. Manjau
bercerita bahwa keadaan keluarganya sangat menyedihkan. Akhirnya, Midun meminta
agar ditugaskan di kampung halamannya.Akhirnya ia kembali ke sana dan bertemu
dengan keluarganya.Ia pun juga bertemu dengan Kacak,musuhnya dahulu. Kacak sangat
menyesal dengan perbuatan yang telah ia lakukan dahulu pada Midun. Akhirnya,Midun
beserta keluarganya hidup bahagia di kampung
halamannya.
Unsur
Intrinsik
Ø
Tema
Tema dari novel ini ialah perjuangan dan
ketabahan. Hal ini dikarenakan oleh adanya perjuangan panjang dan berat yang
harus dialami Midun untuk dapat mengubah jalan hidup dirinya dan keluarganya.
Ø
Tokoh
dan Penokohan
·
Midun
Tokoh protagonis yang bersifat
cekatan,rajin,pandai,arif,suci,baik hati,tertib,sopan,santun,lemahlembut,gagah berani,penyayang,pengasih,ikhlas,alim,dan
saleh.
Bukti kutipan :
o
“Pakaiannya
yang bersih dan sederhana rupanya itumenunjukkan bahwa ia seorang yang suci dan
baik hati.Parasnya baik, badannya kuat, bagus, dan sehat.”(Kutipan berdasarkan
pada halaman tiga)
o
“Memang
Midun seorang muda yang sangat digemari orang di kampungnya. Budi pekertinya
amat baik, tertib sopan santun kepada siapa jua pun. Tertawanya manis, sedap
didengar; tutur katanya lemah lembut. Ia gagah berani lagi baik hati, penyayang
dan pengasih…..”
(Kutipan berdasarkan pada halaman empat)
o
“Nah,
saya katakan terus terang kepadamu! Engkau adalah seorang anak muda yang cekatan.
Budi pekertimu baik. Dalam segala hal engkau rajin dan pandai. Selama ini belum
pernah engkau mengecewakan hati kami. Segala pekerjaanmu bolehdikatakan selalu
menyenangkan hati kami.”
(Kutipan berdasarkan pada halaman 24)
o
“..hati
anak muda yang alim dan saleh itu berdebar jua.”
(Kutipan berdasarkan pada halaman 128)
·
Kacak
Tokoh antagonis dengan sifat yang sombong,jahat,
tidak disukai orang, dan suka berkata kasar kepada orang lain.
Bukti Kutipan :
o
“…..karena
bersesuaian dengan tingkah lakunya. Ia tinggi hati, sombong, dan congkak.
Matanya juling, kemerah-merahan warnanya. Alisnya terjorok ke muka, hidungnya
panjang dan bungkuk. Hal ini sudah menyatakan, bahwa iaseorang yang busuk hati.
Di kampung ia sangat dibenci orang, karena sangat angkuhnya…”(Kutipan
berdasarkan pada halaman lima)
o
Dengan
marah amat sangat Midun dipukul, ditinju dan diterajangkanoleh Kacak.
(Kutipan berdasarkan pada halaman 39)
o
"Jika
benar engkau saya katakan kurang ajar, apapikiranmu, anjing!" ujar Kacak
dengan sangat marah. "Akansaya sembahkah engkau hendaknya, binatang!"
(Kutipan berdasarkan pada halaman 45)
·
Halimah
Cantik, baik budi pekertinya , sederhana,
dan manis dipandang mata.
Bukti Kutipan :
o
“…..Sungguh
cantik gadis ini, tidak ada cacat celanya. Hati siapa yang tidak gila, iman
yang takkan bergoyang memandang yang seelok ini. Tingkah lakunya pun bersamaan
pula dengan rupannya…”
(Kutipan berdasarkan pada halaman 144)
·
Pak
Midun
Tokoh protagonis yang berbudi pekerti baik,
arif, dan penyayang kepada anak- anaknya.
Bukti Kutipan :
o
“…..karena
pak Midun seorang yang tahu dan arif, tiadalah ditinggalkannya syarat-syarat aturan
berguru….”
(Kutipan berdasarkan pada halaman 16)
o
“Demikianlah
hal pak Midun habis hari berganti pekan, habis pekan berganti bulan. Ia selalu
bercintakan Midun, sedikit pun tidak hendak luput dari pikirannya… “
(Kutipan berdasarkan pada halaman 167)
·
Haji Abbas
Tokoh protagonis dengan budi pekertinya
yang baik,bijak, berilmu, dan meupakan seorang ulama besar.
Bukti Kutipan :
o
“…..
Haji Abbas adalah seorang ulama besar. Memang menjadi sifat pada haji Abbas,
jika menuntut sesuatu ilmu berpantang patah di tengah.”
(Kutipan berdasarkan pada halaman 18)
o
“Haji
Abbas adalah seorang tua, yang lubuk akal gudang bicara, laut pikiran tambunan
budi, maka ia pun dimalui dan ditakuti orang di kampung.”
(Kutipan berdasarkan pada halaman 18)
o
"Meskipun
engkau tidak bersalah, tapi percayalah engkau,bahwa kejadian petang ini tidak
membaikkan kepada namamu. Biarpun tidak salahmu, tapi kata orang keduanya
salah.”
(Kutipan berdasarkan pada halaman 18)
·
Tokoh
Tambahan
Maun, Manjau,Kadirun, Ibu Juriah, Juriah,
Kemenakan tuanku Laras, Pendekar Sutan, Pak Inuh, Lenggang,
Jenang,Turigi,Bentang Alam,Ibu Halimah,Nenek Halimah,Ayah tiri Halimah,orang
Tionghoa ,Pak Karto, dan Ganjil.
Ø
Latar
·
Tempat
Latar tempat yang ada di dalam novel ini
adalah Minangkabau,Bogor, Bukitinggi, Padang, dan Tanah Jawa.
Bukti Kutipan :
o
“Sesudah makan-minum, maka diketengahkannyalah
oleh Pak Midun syarat-syarat berguru ilmu silat, sebagaimana yang sudah
dilazimkan orang di Minangkabau.”
(Kutipan
berdasarkan pada halaman 16)
o
"Baik Mamak! Tapi saya rasa tentu tidak akan
demikian jadinya, sebab yang saya ketengahkan ini, menurut adat di Minangkabau ini."
(Kutipan
berdasarkan pada halaman 174)
o
“Sebulan lagi ada pacuan kuda dan pasar malam di
Bukittinggi.”
(Kutipan
berdasarkan pada halaman 59)
o
“Setlah Midun keluar dari kantor Landraad,
diceritakannyalah kepada ketiga bapaknya, bahwa Ia dihukum ke Padang lamanya
empat bulan.”
(Kutipan
berdasarkan pada halaman 81)
o
“Beserta dengan beberapa orang kawan dari Betawi,
ia pun berangkatlah ke
Bogor.
Sampai di Bogor, didapatinya ayah Halimah sudah siap.”
(Kutipan berdasarkan pada halaman 186)
·
Waktu
Latar waktu novel ini ialah waktu Asar,Ahad
pagi,malam hari,pagi-pagi pada hari Sabtu.
o
“Waktu
asar sudah tiba. “
(Kutipan berdasarkan pada halaman pertama)
“Sekali peristiwa pada suatu petang Midun
pergi ke sungai hendak mandi. (Kutipan
berdasarkan pada halaman 43)
o
“Hari
Ahad pagi-pagi, Midun sudah memikul tongkat pengirik padi ke sawah.” (Kutipan berdasarkan pada halaman 27)
o
“Pagi-pagi
hari Sabtu,sebelum matahari terbit, sudah sampai di Bukittinggi.”
(Kutipan
berdasarkan pada halaman 64)
·
Suasana
Suasana yang dialami para tokoh novel ini
ialah takut,bahagia,dan sedih.
Bukti Kutipan :
o
Berkacau-balau
pikiran Midun tentang batu yang dikatakan keramat itu.Tetapi ia tidak berani
mengeluarkan perasaannya,karena takut kepada orang banyak yang mengelilinginya.
(Kutipan
berdasarkan pada halaman 69)
o
“Denganbersedih
hati dan muka yang suram, berjalanlah ia, tidak menoleh-noleh ke belakang.”
(Kutipan
berdasarkan pada halaman 69)
o
“Mendengar
perkataan itu hampir tidak dapat Midun menjawab, karena sangat girang hatinya
mendengar kabar itu.
(Kutipan
berdasarkan pada halaman 117)
Ø
Alur/Plot
Alur maju adalah alur yang digunakan dalam novel ini.
·
Orientasi
atau pengenalan
Bukti Kutipan :
o
“Pakaiannya
yang bersih dan sederhana rupanya itu menunjukkan bahwa ia seorang yang suci
dan baik hati.Parasnya baik, badannya kuat, bagus, dan sehat.”
(Kutipan berdasarkan pada halaman tiga)
o
“Memang
Midun seorang muda yang sangat digemari orang di kampungnya. Budi pekertinya
amat baik, tertib sopan santun kepada siapa jua pun. Tertawanya manis, sedap
didengar; tutur katanya lemah lembut. Ia gagah berani lagi baik hati, penyayang
dan pengasih…..”
(Kutipan berdasarkan pada halaman empat)
·
Timbulnya
konflik atau permasalahan
·
Bukti Kutipan :
o
“Kacak
selalu mencari-cari jalan, supaya ia dapat berkelahi dengan Midun. Dengan
kiasan itu Midun maklum atas kebencian Kacak kepadanya. Tetapi ia amat heran,
apa sebabnya Kacak jadi begitu kepadanya.
(Kutipan berdasarkan pada halaman 30)
·
Puncak
Konflik
Bukti Kutipan :
“Setelah Midun keluar dari kantor Landraad,
diceritakannyalahkepada ketiga bapaknya, bahwa ia dihukum ke Padang lamanya
empat bulan. Dan dikatakannya pula besoknya ia mestiberangkat menjalankan
hukuman itu.” (Kutipan berdasarkan pada halaman 30)
·
Penyelesaian
atau Resolusi
o
“Setelah
diperiksa, kedapatan adabeberapa rupiah uang belasting yang tidak disetornya.
Kacakdicari, didakwa menggelapkan uang belasting. Sebulankemudian daripada itu,
Kacak dapat ditangkap orang diLubuksikaping. Dengan tangan dibelenggu, ia pun
dibawa polisike Bukittinggi terus dimasukkan ke penjara. Enam bulansesudah itu,
perkara Kacak diperiksa. Karena terang iabersalah, maka Kacak dihukum 2 tahun
dan dibuang ke Padang.”
(Kutipan berdasarkan pada halaman 204)
o
Enam
bulan Midun bekerja, nyatalah kepada orang di atasakan kecakapannya dalam
pekerjaannya. Maka ia pun diangkat menjadi menteri polisi di Tanjung Priok.
(Kutipan berdasarkan pada halaman 185)
Ø
Sudut
Pandang
Sudut pandang pengarang dalam cerita ini ialah sebagai. orang
ketiga serba tahu, yaitu dengan menggunakan kata “dia”,” ia”,dan nama orang,
misalnya Maun,Pak Midun dan Turigi.
Bukti Kutipan :
o
“Midun
berdiam diri saja mendengar perkataan ayahnya.”
(Kutipan berdasarkan pada halaman 37)
o
“Konon
kabarnya ia seorang bangsawan di negerinya,dan menjadi penasihat dan dukun.”
(Kutipan berdasarkan pada halaman 99)
o
“Belum
lama Halimah meletakkan kepala ke bantal, ia puntertidur amat nyenyaknya.”
(Kutipan berdasarkan pada halaman 144)
Ø
Gaya
Bahasa
Novel ini banyak
menggunakan bahasa Minangkabau.Banyak pula peribahasa yang sarat akan nilai
kehidupan di dalamnya.Majas yang digunakan pun bermacam-macam,seperti
metafora,personifikasi,dan hiperbola.
Bukti Kutipan :
o
“…angin
berembus lunak.”
(Kutipan berdasarkan pada halaman 151)
o
“Sudah hampir terbenam matahari gila membual
juga.”
(Kutipan berdasarkan pada halaman keenam)
o
“Amboi, bunyi yang kami takutkan itu, kiranya
“Cempedak hutan” yang baru jatuh…”
(Kutipan berdasarkan pada halaman 11)
o
“Bertimbun-timbun,
hingga hampir sama dengan duduk kita. “
(Kutipan berdasarkan pada halaman ketiga)
o
“Contohnya
ilmu padi, kian berisi kianrunduk. Begitulah yang kami sukai dalam pergaulan
bersama.”
(Kutipan berdasarkan pada halaman 23)
Ø
Amanat
Novel ini penuh
dengan nilai pembelajaran hidup bagi pembacanya. Tidak hanya berdasarkan alur
ceritanya,nilai kehidupan ini dapat diperoleh melalui jalan pikiran tokoh dan
beberapa selipan peribahasa di dalamnya.
Nilai kehidupan yang dapat kita ambil adalah selalu menghadapi suatu
persoalan hidup dengan rasa optimis.Selain itu,sebagai manusia,kita tidak boleh
menyerah dan berputus asa dalam menggapai suatu harapan atau impian yang kita
idam-idamkan.Perjuangan hidup ini memanglah tidak mudah. Berbagai
ancaman,tantangan,hambatan,dan gangguan yang selalu mengganggu kita dalam
meraih asa. Untuk itu, kita harus menghadapi semua persoalan hidup dengan rasa
optimis,ikhlas,sabar, dan tabah.