Statistics

Kamis, 16 April 2020

Nila Sebelanga di Kampus Pendidikan : Sekelumit Realita di Kampus Calon Pendidik Bangsa


“Nila setitik, rusak susu sebelanga
Namun, bagaimana jika nilanya sebelanga?”

Dilangkahkan kaki, digerakkan raga hingga ke taman adimarga.Dari kota udik ke kota penuh pernak-pernik,anak polos dengan sejuta mimpi idealis itu memulai pertualangan baru, mengembara menuju patung Kembara. Patung karya Nyoman Nuarta ini memang barulah berusia seumur jagung menghias kampus yang agung. Patung ini berbisik padanya bahwa ia ingin lulusan kampus ini dapat berpencar , menjelajah nusantara ,dan menebar benih kebaikan dengan ilmu mereka.Ia heran, apakah patung ini sangat cerdas hingga mampu berbicara seperti itu, ataukah ia yang gila karna dapat mendengarnya,ya? ntahlah.

Dalam otaknya,memilih kampus,hmm, tampaknya memang seperti ajang pdkt ,sih . Proses mencari si doi yang cocok memang lah njlimet, tetapi kalau udah sreg langsung saja tembak saja deh,hehehe. Begitu lah pikirnya setahun lalu untuk meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Tak perlu banyak pikiran olehnya untuk memantapkan hati segera berkemas-kemas untuk mencari kelima bola sakti menimba ilmu di kota pelajar,Kota Yogyakarta. “Hah,kau pengen masuk ke UN*? Cuma jadi guru doang ? Guru kan blablabla...” Ditutuplah rapat-rapat telinganya agar tak mendengar komentar miring nan peda kawanya itu. Memilih guru sebagai profesi mungkin memang tidak sekeren mereka yang berjas putih berkalung stetoskop, atau mereka yang berjas rapi duduk dalam ruang ber-AC, ataupun tikus berdasi yang ketahuan terlelap saat sidang *ups, namun profesi yang sering dicap kuno ini adalah benar-benar penuh dengan tanggung jawab.Bagaimana mungkin orang hebat di negeri ini lahir jika gurunya tidak kompeten?

Guru, pada kurun dasawarsa terakhir ini, kerap menjadi sorotan baik oleh pakar pendidikan sampai media massa dan cetak. Oh bukan, ternyata bukan berita tentang keberhasilan mendulang prestasi emas di kancah nasional, namun berita tentang permasalahan pendidikan dan peserta didik khususnya yang ditodongkan semuanya pada guru sebagai akar masalahnya. Pandangan khalayak luas tentang guru saat ini cenderung negatif, senegatif obrolan ibu-ibu kompleks ketika mengerumuni tukang sayur. Banyak orang tua yang mencemooh guru manakala anaknya tidak memperlihatkan hasil memuaskan dalam bidang akademik maupun jika guru memarahi anaknya di sekolah atau mungkin memang anaknya saja yang tidak mau diarahkan. Inilah yang menyebabkan wibawa seorang guru saat ini dipertanyakan keberadaannya.Masihkah guru dihormati saat ini? Konon, pada zaman dahulu kedudukan guru setara dengan para priyayi yang berada di barisan depan upacara.Namun sekarang apa kabar guruku,pahlawanku?

Banyaknya cemooh yang menghampiri memang bukan tanpa sebab. Beberapa oknum guru tak bertanggung jawab melanggar kode etiknya demi keuntungan materi maupun hasrat duniawinya yang lain. Terlebih lagi, mereka kerap dicap rendah akibat minimnya kompetensi yang mereka miliki sebagai bagian profesionalisme kerja. Kompetensi yang dimiliki guru hingga berbusa-busa selama dua sks, lalu memberi tugas menulis esai yang sedang penulis kerjakan ini, hehehe. Bukan,lebih daripada itu yaitu mampu menginternalisasikan nilai positif tentang kehidupan dalam diri guru kepada peserta didiknya. Kegagalan guru dalam melaksanakan pendidikan sesuai tugasnya dan rendahnya kompetensi guru menjadi sebab lahirnya guru tak kompeten dan berperilaku kurang terpuji.

Hukum karma mengatakan bahwa segala sesuatu di dunia ini adalah suatu rangkaian sebab dan akibat. Awal kehidupan terjadi karena ditiupkan ruh kepada bayi, hingga molekul air terbentuk karena pemakaian elektron bersama oleh atom H dan O, ialah contoh bahwa sesuatu ada asal usulnya. Penulis pun percaya bahwa stigma dan opini buruk khalayak tentang guru saat ini memang bukan sepenuhnya salah guru, namun guru pun turut bebrbuat kesalahan, baik saat menjadi mahasiswa dan ketika telah terjun ke dunia kerja. Hal ini yang membuat profesi guru yang (pernah) harum namanya pun memudar. Wibawa guru kian terpuruk.

Martabat guru yang merosot ini mungkin tercermin dari perilaku mereka ketika kuliah di kampus pendidikan. Bukan, bukan salah kampusnya dengan kebijakan kontroversialnya yang kerap didemo aktivis BEM di depan gedung rektorat, namun dari mahasiswanya sendiri.Salah satu masalah yang dibawa oleh anak SMA ke kampus pendidikan ialah masalah integritas. Integritas menjadi barang yang cukup mahal pada zaman ini.Orang jenius dengan titel sepanjang kereta mengekor di belakang namanya sangat banyak jumlahnya, namun hanya sedikit yang masih mendengar cakap hati nuraninya. Masalah ini turun menurun,terwarisi, dan terperbarui selalu tiap tahunnya. Miris? Oh tentu saja. Menyayat hati? Jelas iya, apalagi hal ini dijumpai di kampus pendidikan. Kampus yang telah melahirkan pahlawan pengentas kebodohan ini tercoreng oleh perbuatan kurang terpuji mahasiswanya sendiri. Mahasiswa yang bekerja keras hingga dini hari, berjuang meningkatkan kompetensi diri menjadi pendidik, kalah oleh mereka yang berbuat curang.Apakah benar ini kampus yang melahirkan guru yang dihormati itu?

Selanjutnya adalah masalah kepribadian dan sikap. Kepribadian menjadi satu dari empat kompetensi minimal seorang pendidik profesional. Namun,alangkah terkejutnya penulis menyaksikan beberapa mahasiswa berperilaku kurang baik.Apakah benar sosok ini kelak yang akan dicontoh oleh murid-murid polos yang semangat menimba ilmu? Tak pernah penulis sangka, kampus pendidikan dengan semboyan leading in character education ini memiliki mahasiswa seperti itu.Merokok di lingkungan kampus, berucap sumpah serapah atas nasib buruk yang menimpanya,hingga meminta bantuan joki untuk menuliskan tugas akhir adalah contohnya.Seorang mahasiswa si agen perubaham itu pelakunya ? Iya. Mahasiswa kampus pendidikan itu? Iya juga. Oh,inilah yang sebenarnya ada di kampus pendidikan kita tercinta.

Selanjutnya adalah penyakit daya juang rendah.Kronis, berbulan-bulan tak kunjung sembuh terlihat.Mahasiswa jurusan pendidikan banyak yang tak tekun dan serius dalam belajar.Di kelas, raga mereka singgah namun mereka tak sungguh. Entah karena memang bukan ini jurusan pilihan mereka atau memang mereka sudah lelah dihantam tugas kuliah setiap hari, yang jelas hal ini berbahaya jika dibiarkan. Profesi guru memang terlihat tidak seberat tanggung jawab mereka yang memegang pisau bedah, namun apakah perihal mendidik anak bangsa menjadi seorang yang dewasa mental dan akalnya ialah perkara yang remeh? Titel S.Pd di belakang nama memang tidak memaksa lulusannya menjadi guru, namun bukankah semua pekerjaan yang dilakukan dengan serius dan hati yang ikhlas akan berbuah manis dan bernilai ibadah?

            Penulis memang bukan mahasiswa jurusan statistika yang dapat meramal masa depan dengan angka dan data ataupun cenayang yang dapat mencuri berita tentang masa depan dari langit, tetapi penulis yakin masih banyak waktu untuk mahasiswa calon pendidik ini memperbaiki diri dan mengedepankan kompetensi dalam bekerja.Tugas guru zaman ini makin berat, tidak hanya mentransfer ilmu dan nilai positif,tetapi juga harus mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi.

            Mungkin frasa nila sebelanga terdengar sangat melebih-lebihkan, apalagi nila setitik saja sudah rusak susu sebelanga.Namun, kesalahan dan perilaku kurang baik calon guru yang penulis jabarkan di atas cukup membahayakan apabila mahasiswa calon guru masih melakukan hal tersebut. Kepribadian seorang guru sama pentingnya dengan kecakapan kemampuan guru mengajar bidangnya. Kepribadian inilah yang akan dicontoh oleh peserta didiknya dan akan terus dibawanya.Tanggung jawab besar bagi seorang guru untuk selalu menjaga segala tingkah laku dan kepribadiannya.Pendidikan dikatakan berhasil jika ada perubahan seseorang menuju kedewasaan setelah melakukan proses interaksi antara pendidik dan peserta didik.

Empat tahun kuliah di jenjang S1 memang sangat tidak cukup, tetapi semoga dengan bekal ilmu selama perkuliahan, mahasiswa di kampus pendidikan ini dapat segera sadar dan bangkit,bahwa mereka kelak akan menjadi calon pendidik tumpuan bangsa. Orang hebat dan professional tidak dapat lahir hanya dalam waktu singkat. Calon guru hendaknya terus berusaha menimba ilmu hingga akhir hayatnya demi terus memperbarui ilmu.Bangsa ini membutuhkan mereka sebagai garda depan pendorong kemajuan bangsa.Semoga pendidikan negeri ini dapat segera menerbangkan Indonesia menuju masa keemasannya.

Minggu, 08 September 2019

Resensi Buku Nonfiksi


Empat Bencana Geologi yang Paling Mematikan


Identitas Buku
Judul Buku : Empat Bencana Geologi yang Paling Mematikan
Pengarang Buku : Kartono Tjandra
Penerbit Buku :  Gadjah Mada University Press
Kota Terbit :  Yogyakarta
Tahun Terbit : 2017
Tebal Buku : 161 halaman

Secara geografis, Indonesia terletak pada daerah khatulistiwa. Matahari bersinar sepanjang tahun dan dan beriklim tropis serta dipengaruhi angin muson.
Secara geologis, Indonesia terletak pada pertemuan tiga besar lempeng dunia, yaitu lempeng Indo-Australia di sebelah selatan, Lempeng Eurasia di utara, dan Lempeng Pasifik di timur. Ketiga lempeng ini saling bergerak dan bertumbukan, mengakibatkan Indonesia merupakan bagian dari cincin api dunia.

Ring of fire di Indonesia merupakan jalur seismik dan vulkanik paling aktif di Indonesia. Jalur tersebut berimpitan dengan jalur seismik sehingga setiap saat dapat terjadi gempa bumi dengan bencana lain turunannya seperti tsunami dan tanah longsor.Dengan demikian, Indonesia berpotensi besar terkena bencana alam seperti gunung meletus,gempa bumi, tsunami, dan juga tanah longsor.

Buku ini disusun dengan bahasa yang lugas sehingga pembaca tidak menyalahtafsirkan kalimat demi kalimat di buku ini. Selain itu, buku ini dapat menjelaskan hubungan antara kondisi posisi geografis dan geologi Indonesia yang menyebabkan Indonesia rawan bencana dan juga keterkaitan antara suatu bencana dengan bencana lain. Walaupun buku ini merupakan buku dari rumpun ilmu teknik, bahasa yang digunakan membuat pembaca awam tanpa punya latar belakang teknik pun dapat menikmati membacanya.
Kekurangan dari buku ini memiliki sedikit gambar ilustrasi. Selain itu, gambar yang ada di buku ini kualitas gambarnya kurang baik.

Terlepas dari berbagai kekurangan dari buku ini, buku ini sangat direkomendasikan untuk dibaca masyarakat Indonesia yang tinggal di daerah rawan bencana sebagai bekal edukasi dalam mencegah dan menanggulangi bencana yang terjadi di sekitar kota. Dengan bahasa yang sederhana, masyarakat dari segala usia dengan latar belakang pendidikan yang berbeda-beda tetap dapat membaca,mengerti,dan juga memahami pesan dari buku ini.


http://library.uny.ac.id/sirkulasi/index.php?p=show_detail&id=55754&keywords=bencana+geologi

http://library.uny.ac.id

http://opac.uny.ac.id

Jumat, 30 Agustus 2019

Daun Sirsak sebagai Obat Antikanker

Daun Sirsak sebagai Obat Antikanker

Kanker adalah penyakit yang ditandai dengan mekanisme tidak normal dan tidak terkontrol yang mengatur kelangsungan hidup, polifersi, dan diferensiasi sel. Sel yang telah mengalami transformasi neoplastik biasanya mengekspresikan antigen permukaan sel yang menunjukkan kelainan kromosom secara kualitatif atau kuantitatif
Kanker kulit adalah benjolan atau pertumbuhan yang berlebihan jaringan kulit yang mengenai sebagian atau seluruh lapisan kulit, yang memiliki struktur tidak teratur dengan diferensiasi sel dalam berbagai tingkatan pada kromatin, nukleus dan sitoplasma, bersifat ekspansif, infiltratif hingga merusak jaringan sekitarnya, serta bermetastasis melalui pembuluh darah dan atau pembuluh getah bening. Kanker kulit dapat diklasifikasikan dalam tiga tipe terbanyak yaitu karsinoma sel basal, karsinoma sel skuamosa, dan melanoma maligna
Kanker kulit merupakan salah satu kanker yang paling umum didiagnosis di seluruh dunia, terutama pada populasi berkulit putih, insiden dan kematian terus meningkat selama dekade terakhir.  Di Indonesia, kanker kulit menempati urutan ketiga setelah kanker leher rahim dan kanker payudara. Faktor peningkatan radiasi sinar ultraviolet, faktor genetik, pola hidup yang tidak sehat, dan infeksi human papillomavirus dapat menjadi pencetus untuk timbulnya kanker kulit. Meski sudah banyak obat-obat yang ditawarkan namun kebanyakan masih menggunakan komposisi bahan kimia yang dominan, sedangkan Indonesia sebagai negara dengan keragaman tumbuhan yang tinggi memiliki potensi pemanfaatan plasma nutfah tumbuhannya untuk dijadikan produk-produk kesehatan berbahan baku tanaman/herbal seperti masker atau skincare lainnya.
Banyak orang yang lebih memilih untuk menjalani pengobatan alternatif untuk mengatasi penyakit yang dialaminya. Selain harganya lebih terjangkau dan aksesnya juga mudah, obat herbal difavoritkan ketimbang obat-obatan kimia karena menggunakan bahan-bahan alami sehingga dinilai minim risiko komplikasi dan efek samping. Salah satu ramuan alami yang diklaim ampuh mengobati kanker adalah daun sirsak. Apa kata dunia medis seputar anggapan ini?
Sauna sirsak mempunyai kasiat yang manjur untuk menyembuhkan penyakit kanker. Daun sirsak menjadi alternatif banyak pasien untuk mengobati yang mana daunnya mudah di dapat dan rasanya juga enak. Sirsak mengandung senyawa saponin, polifenol, dan juga bioflavonoid yang memiliki khasiat sebagai antioksidan. Nah, cara membunuh sel kanker oleh sirsak inilah yang berbeda dengan herbal lainnya. Sirsak hanya membunuh sel-sel yang tumbuhnya abnormal atau sel-sel spesifik seperti radikal bebas yang ada sel-sel kankernya. Tapi sirsak tidak merusak sel-sel yang sehat.Kandungan Annonaceous acetogenin dalam daun sirsak mempunyai manfaat untuk menyerang sel kanker dengan aman dan efektif secara alami, tanpa rasa mual, berat badan turun, rambut rontok, seperti yang terjadi pada terapi kemo
Annonaceous acetogenin hanya ditemukan pada keluarga Annonaceae. Annoneceaus acetogenins telah diketahui memiliki khasiat anti tumor, anti parasit, pestidial, anti protozoal, anti helmitic, dan anti mikrobial. Annoneceous acetogenins merupakan suatu kelompok fitokimia yang mengandung poliketida. Kebanyaklan acetogenins adalah derivat rantai panjang asam lemak (C23 atau C24) dan asam terminal carboxylic yang dikombinasi dengan 2 unit propanol pada posisi C2 untuk membentuk methyl substitued a,b-unsaturated-y-25 lactone (Megawati, 2015). Strukturnya yaitu:


Senyawa acetoginin yang terdapat dalam daun sirsak berperan sebagai inhibitor sumber energi untuk pertumbuhan sel kanker. Kekuatan energi menyebabkan sel tidak bisa membelah dengan baik. Acetogenin yang ikut masuk ke dalam tubuh akan menempel pada reseptor dinding sel dan berfungsi merusak ATP di dinding mitokondria. Akibatnya produksi energi didalam sel kanker terhenti dan akhirnya sel kanker akan mati.
Cara menggunakan daun sirsak sebagai zat antikanker cukup mudah. Daun sirsak direbus hingga ekstraknya keluar. Kemudian ekstrak tersebut diminum. Air rebusan tadi juga dapat digunakan untuk mengolesi kulit. Jika tidak mau repot, kini sudah banyak yang menjual ekstrak daun sirsak yang dikemas dalam kapsul.
Walaupun banyak khasiat yang dikandungnya,mengonsumsi suplemen sirsak secara berlebihan dapat berisiko menimbulkan beberapa efek samping seperti gangguan saraf dengan gejala yang mirip penyakit parkinson, gangguan gerakan tubuh, hingga kerusakan organ hati dan ginjal.
 Konsumsi daun sirsak juga tidak disarankan untuk dikonsumsi jika Anda memiliki beberapa kondisi seperti:
              Memiliki tekanan darah rendah
Sedang dalam pengobatan hipertensi atau diabetes
Sedang hamil atau menyusui
Memiliki kelainan hati atau ginjal
Pengobatan alternatif, apapun bentuknya, bukan untuk menggantikan pengobatan dan/atau terapi medis dari dokter, melainkan hanya sebagai tambahan/pelengkap. Artinya, terapi penyembuhan penyakit yang ideal seharusnya tetap mengutamakan pengobatan medis dokter.
Karena itu obat herbal sebaiknya hanya dikonsumsi untuk menjaga kesehatan, pemulihan penyakit, atau menurunkan risiko dari penyakit — bukan untuk menyembuhkan. Suplemen herbal juga tidak boleh diminum sembarangan karena reaksi tiap orang terhadap obat-obatan bisa berbeda satu sama lain. Meski punya keluhan sama, belum tentu obat herbal yang ternyata cocok untuk Anda akan memberikan khasiat yang sama pada anak atau tetangga Anda.Alangkah lebih baik jika Anda memprioritaskan rencana pengobatan Anda dengan perawatan medis yang didapat dari dokter dan tenaga profesional kesehatan.

Selasa, 03 November 2015

Mengidentifikasi Karakteristik Novel Angkatan 20-an


Nama   : Muhammad Naufal Majid
Kelas / Nomor Presensi : IX G /21


Sengsara Membawa Nikmat


            Novel “Sengsara Membawa Nikmat”adalah salah satu bentuk sastra klasik  karya anak negeri yang cukup popular.Novel ini merupakan sastra angkatan 1920. Kisah yang bernuansa adat Minangkabau ini  mengisahkan tentang perjuangan hidup yang penuh dengan ancaman,tantangan,dan hambatan yang dialami oleh tokoh utama sebelum ia meraih kesuksesan dalam hidupnya.
*       Identitas Buku

Ø Judul buku                   : Sengsara Membawa Nikmat
Ø Penulis                         : Tulis Sutan Sati
Ø Penerbit                      : Balai Pustaka
Ø Cetakan pertama        : 1929
Ø Jumlah halaman           : 204

*       Sinopsis
            Secara umum, novel ini menceritakan tentang kehidupan Midun,seorang pemuda Minang dari kalangan rakyat biasa.Di dalam novel ini,ia diceritakan sebagai sesosok pemuda yang santun, berperilaku baik, taat agama, mahir dalam ilmu silat dan rendah hati. Karena kehalusan budi pekerti dan kerendahan hatinya, ia disukai warga kampungnya. Hal ini membakar rasa iri hati dan cemburu pemuda lainnya yangbernama Kacak. Kacak adalah pemuda dari golongan bangsawan yang sangat disegani di kampungnya karena ia adalah anak raja.Ia dilukiskan sebagai pemuda yang angkuh,congkak,dan jahat.

            Penyebab utama terjadinya konflik dalam novel ini ialah kebencian dan kedengkian Kacak kepada Midun.Ia terus mencari akal untuk menyiksa,menjebak,dan memfitnahnya.Lebih dari itu,iamerencanakan sejumlah hal dengan tujuan membunuh Midun. Usaha tersebut selalu gagal.Akan tetapi ,Midun dapat dijebak dan pada akhirnya ia berhasil dijebloskan ke dalam penjara.
            Dalam menjalani masa tahanannya, Midun bertugas menyapu jalanan. Pada suatu hari, ia melihat  gadis cantik yang duduk termenung di bawah pohon. Setelah gadis itu pergi, Midun bermaksud menyapu di tempat gadis tersebut duduk. Dirinya sangat terkejut karena mendapati sebuah kalung milik gadis tersebut. Akhirnya setelahia mengembalikan kalung milik gadis tersebut, ia bisa berkenalan dengan gadis itu. Halimah hidup bersama dengan ayah tirinya. Ia merasa tidak terancam dan ketakuta.Gadis yang bernama Halimah itu meminta Midun untuk mencari ayah kandungnya di Bogor,setelah Midun selesai menjalani masa hukuman yang tinggal beberapa hari itu. Akhirnya,Midun berjanji untuk mengantarkan Halimah.

            Setelah keluar dari penjara,Midun menepati janjinya dengan membawa Halimah lari ke Bogor mencari ayahnya. Setelah menemukan ayah Halimah, Midun menetap di rumah tersebut selama beberapa bulan. Setelah sekian lama tinggal di rumah itu, ia memutuskan berangkat ke Batavia mencari pekerjaan.

            Masalah yang Midun alami,belumlah usai. Ia meminjam uang pada rentenir dan memulai usahanya.Akan tetapi,akibat meminjam kepada rentenir, ia harus berhadapan kembali dengan meja hijau karena ia tidak mau membayar uang yang ia rasa tidak pernah ia pinjam.Akhirnya, ia masuk ke penjara sekali lagi. Setelah ia menghirup udara bebas, ia pun berjalan-jalan ke Pasar Baru.Secara tidak sengaja ia menolong seorang sinyo Belanda yang diganggu penjahat. Sinyo Belanda tersebut ternyata anak seorang pejabat terkenal. Karena kebaikannya,Midun diberi pekerjaan dan akhirnya ia pergi ke Bogor untuk menikahi kekasih hatinya, Halimah.

            Karir Midun pun mengalami kenaikan yang signifikan dan dipercaya memimpin sebuah operasi di Medan. Hal tersebut mempertemukannya dengan adiknya yang bernama Manjau. Manjau bercerita bahwa keadaan keluarganya sangat menyedihkan. Akhirnya, Midun meminta agar ditugaskan di kampung halamannya.Akhirnya ia kembali ke sana dan bertemu dengan keluarganya.Ia pun juga bertemu dengan Kacak,musuhnya dahulu. Kacak sangat menyesal dengan perbuatan yang telah ia lakukan dahulu pada Midun. Akhirnya,Midun beserta keluarganya  hidup bahagia di kampung halamannya.

*      Unsur Intrinsik

Ø  Tema
Tema dari novel ini ialah perjuangan dan ketabahan. Hal ini dikarenakan oleh adanya perjuangan panjang dan berat yang harus dialami Midun untuk dapat mengubah jalan hidup dirinya dan keluarganya.

Ø  Tokoh dan Penokohan

·         Midun
Tokoh protagonis yang bersifat cekatan,rajin,pandai,arif,suci,baik hati,tertib,sopan,santun,lemahlembut,gagah berani,penyayang,pengasih,ikhlas,alim,dan saleh.

Bukti kutipan :

o   “Pakaiannya yang bersih dan sederhana rupanya itumenunjukkan bahwa ia seorang yang suci dan baik hati.Parasnya baik, badannya kuat, bagus, dan sehat.”(Kutipan berdasarkan pada halaman tiga)
o   “Memang Midun seorang muda yang sangat digemari orang di kampungnya. Budi pekertinya amat baik, tertib sopan santun kepada siapa jua pun. Tertawanya manis, sedap didengar; tutur katanya lemah lembut. Ia gagah berani lagi baik hati, penyayang dan pengasih…..”
(Kutipan berdasarkan pada halaman empat)
o   “Nah, saya katakan terus terang kepadamu! Engkau adalah seorang anak muda yang cekatan. Budi pekertimu baik. Dalam segala hal engkau rajin dan pandai. Selama ini belum pernah engkau mengecewakan hati kami. Segala pekerjaanmu bolehdikatakan selalu menyenangkan hati kami.”
(Kutipan berdasarkan pada halaman 24)
o   “..hati anak muda yang alim dan saleh itu berdebar jua.”
(Kutipan berdasarkan pada halaman 128)

·         Kacak
Tokoh antagonis dengan sifat yang sombong,jahat, tidak disukai orang, dan suka berkata kasar kepada orang lain.

Bukti Kutipan :

o   “…..karena bersesuaian dengan tingkah lakunya. Ia tinggi hati, sombong, dan congkak. Matanya juling, kemerah-merahan warnanya. Alisnya terjorok ke muka, hidungnya panjang dan bungkuk. Hal ini sudah menyatakan, bahwa iaseorang yang busuk hati. Di kampung ia sangat dibenci orang, karena sangat angkuhnya…”(Kutipan berdasarkan pada halaman lima)
o   Dengan marah amat sangat Midun dipukul, ditinju dan diterajangkanoleh Kacak.
(Kutipan berdasarkan pada halaman 39)
o   "Jika benar engkau saya katakan kurang ajar, apapikiranmu, anjing!" ujar Kacak dengan sangat marah. "Akansaya sembahkah engkau hendaknya, binatang!"
(Kutipan berdasarkan pada halaman 45)

·         Halimah
Cantik, baik budi pekertinya , sederhana, dan manis dipandang mata.

Bukti Kutipan :
o   “…..Sungguh cantik gadis ini, tidak ada cacat celanya. Hati siapa yang tidak gila, iman yang takkan bergoyang memandang yang seelok ini. Tingkah lakunya pun bersamaan pula dengan rupannya…”
(Kutipan berdasarkan pada halaman 144)

·         Pak Midun
Tokoh protagonis yang berbudi pekerti baik, arif, dan penyayang kepada anak- anaknya.

Bukti Kutipan :

o   “…..karena pak Midun seorang yang tahu dan arif, tiadalah ditinggalkannya syarat-syarat aturan berguru….”
(Kutipan berdasarkan pada halaman 16)
o   “Demikianlah hal pak Midun habis hari berganti pekan, habis pekan berganti bulan. Ia selalu bercintakan Midun, sedikit pun tidak hendak luput dari pikirannya… “
(Kutipan berdasarkan pada halaman 167)

·         Haji Abbas
Tokoh protagonis dengan budi pekertinya yang baik,bijak, berilmu, dan meupakan seorang ulama besar.

   Bukti Kutipan :
o   “….. Haji Abbas adalah seorang ulama besar. Memang menjadi sifat pada haji Abbas, jika menuntut sesuatu ilmu berpantang patah di tengah.”
(Kutipan berdasarkan pada halaman 18)
o   “Haji Abbas adalah seorang tua, yang lubuk akal gudang bicara, laut pikiran tambunan budi, maka ia pun dimalui dan ditakuti orang di kampung.”
(Kutipan berdasarkan pada halaman 18)
o   "Meskipun engkau tidak bersalah, tapi percayalah engkau,bahwa kejadian petang ini tidak membaikkan kepada namamu. Biarpun tidak salahmu, tapi kata orang keduanya salah.”
(Kutipan berdasarkan pada halaman 18)

·         Tokoh Tambahan
Maun, Manjau,Kadirun, Ibu Juriah, Juriah, Kemenakan tuanku Laras, Pendekar Sutan, Pak Inuh, Lenggang, Jenang,Turigi,Bentang Alam,Ibu Halimah,Nenek Halimah,Ayah tiri Halimah,orang Tionghoa ,Pak Karto, dan Ganjil.

Ø  Latar
·         Tempat     
Latar tempat yang ada di dalam novel ini adalah Minangkabau,Bogor, Bukitinggi, Padang, dan Tanah Jawa.
Bukti Kutipan :

o    “Sesudah makan-minum, maka diketengahkannyalah oleh Pak Midun syarat-syarat berguru ilmu silat, sebagaimana yang sudah dilazimkan orang di Minangkabau.”
(Kutipan berdasarkan pada halaman 16)
o    "Baik Mamak! Tapi saya rasa tentu tidak akan demikian jadinya, sebab yang saya ketengahkan ini, menurut adat di Minangkabau ini."
(Kutipan berdasarkan pada halaman 174)
o    “Sebulan lagi ada pacuan kuda dan pasar malam di Bukittinggi.”
(Kutipan berdasarkan pada halaman 59)
o    “Setlah Midun keluar dari kantor Landraad, diceritakannyalah kepada ketiga bapaknya, bahwa Ia dihukum ke Padang lamanya empat bulan.”
(Kutipan berdasarkan pada halaman 81)
o    “Beserta dengan beberapa orang kawan dari Betawi, ia pun berangkatlah ke
Bogor. Sampai di Bogor, didapatinya ayah Halimah sudah siap.”
  (Kutipan berdasarkan pada halaman 186)

·         Waktu      
Latar waktu novel ini ialah waktu Asar,Ahad pagi,malam hari,pagi-pagi pada hari Sabtu.
o   “Waktu asar sudah tiba. “
 (Kutipan berdasarkan pada halaman pertama)
“Sekali peristiwa pada suatu petang Midun pergi ke sungai hendak mandi.  (Kutipan berdasarkan pada halaman 43)
o   “Hari Ahad pagi-pagi, Midun sudah memikul tongkat pengirik padi ke sawah.”  (Kutipan berdasarkan pada halaman 27)
o   “Pagi-pagi hari Sabtu,sebelum matahari terbit, sudah sampai di Bukittinggi.”
(Kutipan berdasarkan pada halaman 64)

·         Suasana    
Suasana yang dialami para tokoh novel ini ialah takut,bahagia,dan sedih.

Bukti Kutipan :

o   Berkacau-balau pikiran Midun tentang batu yang dikatakan keramat itu.Tetapi ia tidak berani mengeluarkan perasaannya,karena takut kepada orang banyak yang mengelilinginya.
(Kutipan berdasarkan pada halaman 69)
o   “Denganbersedih hati dan muka yang suram, berjalanlah ia, tidak menoleh-noleh ke belakang.”
(Kutipan berdasarkan pada halaman 69)

o   “Mendengar perkataan itu hampir tidak dapat Midun menjawab, karena sangat girang hatinya mendengar kabar itu.
(Kutipan berdasarkan pada halaman 117)

Ø  Alur/Plot
Alur maju adalah alur yang digunakan dalam novel ini.
·         Orientasi atau pengenalan

Bukti Kutipan :

o   “Pakaiannya yang bersih dan sederhana rupanya itu menunjukkan bahwa ia seorang yang suci dan baik hati.Parasnya baik, badannya kuat, bagus, dan sehat.”
(Kutipan berdasarkan pada halaman tiga)
o   “Memang Midun seorang muda yang sangat digemari orang di kampungnya. Budi pekertinya amat baik, tertib sopan santun kepada siapa jua pun. Tertawanya manis, sedap didengar; tutur katanya lemah lembut. Ia gagah berani lagi baik hati, penyayang dan pengasih…..”
(Kutipan berdasarkan pada halaman empat)

·         Timbulnya konflik atau permasalahan
·          
Bukti Kutipan :

o   “Kacak selalu mencari-cari jalan, supaya ia dapat berkelahi dengan Midun. Dengan kiasan itu Midun maklum atas kebencian Kacak kepadanya. Tetapi ia amat heran, apa sebabnya Kacak jadi begitu kepadanya.
 (Kutipan berdasarkan pada halaman 30)

·         Puncak Konflik
Bukti Kutipan :
“Setelah Midun keluar dari kantor Landraad, diceritakannyalahkepada ketiga bapaknya, bahwa ia dihukum ke Padang lamanya empat bulan. Dan dikatakannya pula besoknya ia mestiberangkat menjalankan hukuman itu.” (Kutipan berdasarkan pada halaman 30)

·         Penyelesaian  atau Resolusi
o   “Setelah diperiksa, kedapatan adabeberapa rupiah uang belasting yang tidak disetornya. Kacakdicari, didakwa menggelapkan uang belasting. Sebulankemudian daripada itu, Kacak dapat ditangkap orang diLubuksikaping. Dengan tangan dibelenggu, ia pun dibawa polisike Bukittinggi terus dimasukkan ke penjara. Enam bulansesudah itu, perkara Kacak diperiksa. Karena terang iabersalah, maka Kacak dihukum 2 tahun dan dibuang ke Padang.”
(Kutipan berdasarkan pada halaman 204)
o   Enam bulan Midun bekerja, nyatalah kepada orang di atasakan kecakapannya dalam pekerjaannya. Maka ia pun diangkat menjadi menteri polisi di Tanjung Priok.
(Kutipan berdasarkan pada halaman 185)

Ø  Sudut Pandang
Sudut pandang pengarang dalam cerita ini ialah sebagai. orang ketiga serba tahu, yaitu dengan menggunakan kata “dia”,” ia”,dan nama orang, misalnya Maun,Pak Midun dan Turigi.

Bukti Kutipan :
o   “Midun berdiam diri saja mendengar perkataan ayahnya.”
(Kutipan berdasarkan pada halaman 37)
o   “Konon kabarnya ia seorang bangsawan di negerinya,dan menjadi penasihat dan dukun.”
(Kutipan berdasarkan pada halaman 99)
o   “Belum lama Halimah meletakkan kepala ke bantal, ia puntertidur amat nyenyaknya.”
(Kutipan berdasarkan pada halaman 144)

Ø  Gaya Bahasa
     Novel ini banyak menggunakan bahasa Minangkabau.Banyak pula peribahasa yang sarat akan nilai kehidupan di dalamnya.Majas yang digunakan pun bermacam-macam,seperti metafora,personifikasi,dan hiperbola.
Bukti Kutipan :

o   “…angin berembus lunak.”
(Kutipan berdasarkan pada halaman 151)
o    “Sudah hampir terbenam matahari gila membual juga.”
(Kutipan berdasarkan pada halaman keenam)
o    “Amboi, bunyi yang kami takutkan itu, kiranya “Cempedak hutan” yang baru jatuh…”
(Kutipan berdasarkan pada halaman 11)


o   “Bertimbun-timbun, hingga hampir sama dengan duduk kita. “
(Kutipan berdasarkan pada halaman ketiga)
o   “Contohnya ilmu padi, kian berisi kianrunduk. Begitulah yang kami sukai dalam pergaulan bersama.”
(Kutipan berdasarkan pada halaman 23)

Ø  Amanat
     Novel ini penuh dengan nilai pembelajaran hidup bagi pembacanya. Tidak hanya berdasarkan alur ceritanya,nilai kehidupan ini dapat diperoleh melalui jalan pikiran tokoh dan beberapa selipan peribahasa di dalamnya.
       Nilai kehidupan yang dapat kita ambil adalah selalu menghadapi suatu persoalan hidup dengan rasa optimis.Selain itu,sebagai manusia,kita tidak boleh menyerah dan berputus asa dalam menggapai suatu harapan atau impian yang kita idam-idamkan.Perjuangan hidup ini memanglah tidak mudah. Berbagai ancaman,tantangan,hambatan,dan gangguan yang selalu mengganggu kita dalam meraih asa. Untuk itu, kita harus menghadapi semua persoalan hidup dengan rasa optimis,ikhlas,sabar, dan tabah.